Kasus Pelecehan Perempuan Oleh Pastor Di Mata John Prior SVD

Saya tidak akan menanggapi kasus “Pastor A” yang dipindahkan dari Paroki Tukuneno ke Komunitas Pastoran SMK Bitauni, karena hanya mendengar informasi sepihak. Tapi, saya rela – dan merasa wajib – untuk menanggapi sekali lagi secara umum kasus-kasus pelecehan perempuan oleh pastor-pastor tertahbis.

1]. Setiap kasus yang menyangkut seorang pastor tertahbis merupakan kasus pelecehan. Ada dua alasan. Pertama, setiap pastor mengikrarkan janji atau kaul selibat. Jadi, kalau dia berhubungan dengan seorang perempuan secara intim, dia melecehkan janji atau kaul itu. Kedua, seorang pastor tertahbis mendukuki posisi sangat terhormat di tengah masyarakat. Hampir-hampir tak kecuali, relasi seorang pastor tertahbis dengan perempuan merupakan hubungan antara dia yang “berkuasa” dan korban yang tak berkuasa. Entah sang korban adalah musdinah (laki) atau siswi (perempuan), atau orang punya istri. Maka, setiap kasus serupa bukan hanya pelecehan seksual, tapi sekaligus pelecehan kekuasaan.

2]. Karena kedudukan pastor tertahbis dinilai tinggi oleh masyarakat, apalagi oleh umat awam yang dilayaninya, atau siswi yang diajarnya, pelaku tertahbis adalah pihak yang bersalah. Kita tidak boleh sekalipun menyalahkan si korban seolah-olah si korban “menggoda” si pastor tertahbis. Pastorlah yang punya status tinggi, bukan si korban. Dia yang terdidik dan harus tahu diri, bukan anak pasca masa pubertas yang mengaguminya.